Jumat, 22 Desember 2017 | 18:19:43

Jika Anda mengevaluasi jalannya bisnis selama tahun 2017 ini dan ternyata hasilnya tak mencapai target, ada baiknya mendengar saran dari Yuswohady. Pengamat Pemasaran Bisnis dan Pendiri Inveture menyebut pola konsumsi di kalangan generasi muda telah mengalami pergeseran.

Agar Bisnis Bertahan, Pahami Gaya Konsumtif Generasi Muda

Pergeseran ini membuat bisnis berbasis ekonomi digital dan leisure berkembang pesat. Buktinya terlihat jelas, dengan semakin berkembangnya transportasi daring, e-dagang, penggunaan uang elektrik, dan perusahaan teknologi berbasis keuangan (fintech).

Pola konsumsi di kalangan generasi muda telah mengalami pergeseran

Untuk itu, saat menjadi pembicara di Entrepreneur Talk 2018 yang diselenggarakan oleh PT Bank Central Asia Tbk  (BCA) di Menara BCA, Yuswohady menyarankan Anda berani mengambil antisipasi bisnis untuk tahun 2018 nanti. Caranya, dengan mengenali pasar anak muda.

Tren traveling

Generasi milenial lebih mementingkan pengalaman; itu menuntun mereka jadi gemar bepergian. Tren ini didukung oleh maraknya hotel dan penerbangan murah yang dapat diakses melalui platform tertentu.

Beberapa perusahaan, kata Yuswohady, bahkan memberi keleluasaan bepergian dengan layanan cicilan. Misalnya, liburan ke Selandia Baru kini bisa dicicil dengan harga mulai dari Rp 4 juta. Itu menarik bagi milenial, terutama karena mereka suka mengunjungi tempat baru.

Ritel dan leisure

Ketika pertokoan tradisional seperti Glodok, Metro Pasar Baru, dan Mangga Dua mengalami penurunan penjualan sampai 50 persen, pusat perbelanjaan seperti Kota Kasablanka, Gandaria City, dan Grand Indonesia justru meningkat penjualannya.

Inilah yang dimaksud pergeseran oleh Yuswohady, ketika belanja bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan tapi juga sebagai gaya hidup.  Oleh sebab itu, milenial lebih suka pergi ke pusat perbelanjaan yang ekspresif di mana gaya hidup mereka dapat tersalurkan.

Makanan dan Pertemanan

Generasi muda saat ini tak hanya pergi ke restoran untuk makan. Mereka bersosialisasi, menghabiskan waktu luang, atau sekadar mengambil foto spesial. Setiap kali ke restoran, menurut Yuswohady, mereka dapat menghabiskan uang sampai Rp 100 ribu.

Gym atau yoga

Pergi ke tempat kebugaran atau mengikuti kelas yoga sudah menjadi kebutuhan bagi generasi muda yang sadar akan gaya hidup sehat. Perubahan pola konsumsi ini dapat memberi keuntungan untuk para pengusaha yang membuka bisnis kesehatan.

Internet santai

Yuswohady menilai, dalam sehari, milenial dapat menghabiskan waktu sampai dua jam untuk mengakses fasilitas internet di ponsel pintar. Porsi penggunaan internet mereka lebih sering dipakai saat santai.

Minimalis praktis

Milenial lebih suka gaya minimalis untuk urusan tempat tinggal. Mereka tak suka mengoleksi dan menumpuk barang di rumah sehingga terlihat seperti gudang. Bila ingin pindah tempat tinggal, mereka tak perlu repot beres-beres.

Gaya hidup praktis, juga membuat generasi muda lebih suka menggunakan aplikasi atau platform yang memungkinkan mereka leluasa berbagi (sharing economy). Karenanya, aplikasi serba praktis seperti Google Play Music, Soundcloud, Tidal, atau Dubsmash jadi lebih marak saat ini.

Sumber: Smart-money.co

Jika Anda mempunyai pertanyaan atau saran, kirimkan email ke beritabca(at)kompas.com